Di kampung tempat aku dulu tinggal, ada satu kebiasaan yang sampai sekarang masih sering kulihat kalau pulang berkunjung. Hampir setiap malam, banyak BEJOTOTO ALTERNATIF rumah yang membiarkan lampu teras tetap menyala meskipun pemilik rumah sudah masuk ke dalam dan bersiap beristirahat.
Kalau dipikir-pikir, kebiasaan itu memang terlihat biasa saja. Tapi semakin besar aku baru sadar, ternyata ada banyak alasan kenapa orang-orang melakukan hal tersebut.
Waktu itu aku belum begitu paham. Namun setelah beberapa tahun tinggal di lingkungan yang berbeda, aku mulai mengerti maksudnya.
Di daerah kami, jalan kampung memang tidak terlalu ramai pada malam hari. Kadang ada orang yang baru pulang kerja, ada yang baru selesai dari acara keluarga, dan ada pula yang sedang dalam perjalanan menuju rumah saudaranya. Lampu-lampu teras yang menyala itu membuat suasana jalan terasa lebih nyaman.
Apalagi ketika listrik jalanan belum sebanyak sekarang. Cahaya dari rumah-rumah warga sering menjadi penerang tambahan bagi siapa saja yang melintas.
Yang menarik, kebiasaan itu bukan karena ada aturan tertentu. Tidak ada kepala kampung yang mewajibkan. Tidak ada pula kesepakatan tertulis. Semuanya berjalan begitu saja karena sudah menjadi kebiasaan turun-temurun.
Bahkan ada beberapa orang tua yang merasa kurang tenang kalau lampu depan rumah dimatikan terlalu cepat.
Menurut mereka, rumah yang terang memberi kesan bahwa pemiliknya masih berjaga dan siap membantu kalau sewaktu-waktu ada tetangga yang membutuhkan sesuatu.
Pernah suatu malam hujan turun cukup deras. Seorang pengendara motor berhenti di depan rumah warga karena kesulitan melihat jalan. Melihat itu, pemilik rumah langsung keluar mempersilakan orang tersebut berteduh di teras sampai hujan reda.
Hal-hal seperti itu memang sering terjadi di kampung.
Tidak harus saling kenal dekat. Kadang cukup karena sama-sama manusia yang sedang membutuhkan bantuan.
Mungkin itulah sebabnya lampu teras bukan sekadar penerangan. Ada makna lain yang tersimpan di balik kebiasaan sederhana tersebut.
Lampu yang menyala seakan menjadi tanda bahwa rumah itu terbuka untuk menyambut siapa saja dengan niat baik. Menjadi simbol keramahan yang masih bertahan meskipun zaman sudah banyak berubah.
Sekarang memang banyak orang lebih sibuk dengan urusan masing-masing. Pagar rumah semakin tinggi, pintu semakin rapat, dan hubungan antarwarga tidak selalu sedekat dulu. Namun di beberapa tempat, kebiasaan membiarkan lampu teras tetap menyala masih terus dijaga.
Bukan karena takut gelap atau karena lupa mematikannya. Melainkan karena ada nilai kebersamaan yang sudah lama hidup di tengah masyarakat.
Sampai hari ini, setiap kali melihat cahaya lampu teras dari kejauhan saat malam, aku selalu teringat suasana kampung dulu. Suasana yang sederhana, tenang, dan penuh rasa peduli antarsesama.
Kadang sebuah lampu kecil memang tidak mampu menerangi seluruh jalan. Tapi cukup untuk membuat seseorang merasa bahwa ia tidak berjalan sendirian di tengah gelapnya BEJOTOTO RESMI malam. Itulah alasan kenapa kebiasaan ini masih tetap bertahan dan terus menjadi bagian dari kehidupan banyak warga di berbagai daerah Indonesia.